Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 16 September 2016

Siapa yang meninggalkan sesuatu karena Allah, maka Dia akan ganti dengan yang lebih baik



Siapa yang meninggalkan sesuatu karena Allah, maka Dia akan ganti dengan yang lebih baik.

Siapa yang meninggalkan budaya dan tradisi syirik, maka Allah akan menggantikannya dengan beribadah pada Allah semata. Shalatnya untuk Allah, sembelihan tumbalnya untuk Allah, dan sedekahnya jadinya untuk Allah.

Minggu, 22 Mei 2016

MENJAWAB TANTANGAN DAKWAH



Gerakan dakwah yang bersejarah tentunya menjadi prasasti perjuangan oleh generasi terdahulu.   Pekerjaan yang menyejarah akan menjadi suatu bentuk perjuangan bersama. Pekerjaan-pekerjaan besar dalam sejarah tentunya dapat selesaikan oleh mereka yang mempunyai kualitas pribadi yang baik. Tantangan-tangan besar yang salah satunya masalah rusaknya moral, harus kita mencari solusinya bersama.

Senin, 30 Maret 2015

MENGALAHKAN LANGIT




Langit diatas kita yang terbentang sejauh mata memandang. Terkadang ia berwarna biru cerah dan terkadang awan-awan berarak-arak menghiasinya. Kadang kala indah dan menyejukkan, namun ia terkadang menghitam gelap menakutkan dan serasa kurang bersahabat. Dan ia adalah ciptaan Allah…..

Senin, 19 Agustus 2013

Konsisten Berdakwah Di Dunia Maya


Oleh Muh. Abid Fauzan*

Alhamdulillah... itu yang ana awali tulisan ini serta kata yang ana ucapkan juga –innalillahi juga- ketika menjabat sebagai Ketua umum Komunitas Blogger Pena Sunnah (KBPS). Komunitas yang di bentuk –kalau tidak salah- 2009 ini, memiliki impian yaitu Menjadi komunitas blogger muslim Ahlus Sunnah yang besar di Indonesia. Impian itu tetunnya memiliki hasrat untuk berdakwah di dunia maya, dunia yang memiliki sisi gelap dan terang.

Jumat, 26 April 2013

For Climbers Hearts

Duhai setiap jiwa yang sedang melakukan pendakian menuju puncak yang tertinggi. Sudahkah engkau melewati tempat persinggahan taubat? Sebab taubat adalah tempat persinggahan untuk mengambil kekuatan yang meliputi segala sesuatu. Ia merupakan awal persinggahan, pertengahan dan akhirnya. Jangan biarkan pendakianmu menuju puncak hanya menghasilkan rasa lelah dan engkau tidak merasakan kelezatan dalam pendakian itu. Duhai jiwa, segeralah bertaubat sebelum ajal menjemput. Karena engkau tidak akan pernah tahu apakah Allah azza wa jalla masih memberikan kesempatan untuk hidup 1 jam bahkan 1 menit ke depan.

"dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, Hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (Qs. An-Nuur(24): 31)

Duhai jiwa, perhatikanlah ayat yang turun di Madinah ini. Kata Al Imam Ibnu Qayyim Al Jauziyah dalam Kitab Madarijus Salikin bahwa Allah mengarahkan firman-Nya kepada orang-orang yang beriman dan orang-orang pilihan-Nya, agar mereka bertaubat, setelah mereka beriman, bersabar, berjihad dan berhijrah. Bahkan Allah mengaitkan keberuntungan dengan satu sebab, dan juga menggunakan kata "supaya", yang mengindikasikan pengharapan. Dengan kata lain, jika kalian bertaubat, maka diharapkan kalian akan beruntung. Sementara tidak ada yang mengharap keberuntungan kecuali orang-orang yang bertaubat. Semoga Allah menjadikan kita semua termasuk golongan mereka. Di samping itu, Allah juga befirman tentang kebalikan dari golongan ini, “dan barangsiapa yang tidak bertobat, Maka mereka Itulah orang-orang yang zalim.” (Qs. Al-Hujurat( 49): 11)

Cap zhalim diberikan kepada orang yang tidak bertaubat dan tidak ada orang yang lebih zhalim dari dirinya, karena dia tidak tahu Allah dan hak-Nya, tidak tahu aib dirinya dan kekurangan amalnya. Dalam Shahih Bukhari, Abu Hurairah berkata; saya mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Demi Allah, sesungguhnya aku beristighfar (meminta ampunan) dan bertaubat kepada Allah dalam satu hari lebih dari tujuh puluh kali."

Duhai jiwa, berapa banyak aibmu yang telah ditutupi Allah di hadapan manusia? Oh, jika sekiranya aib itu memiliki bau. Jangankan menganggap engkau orang yang baik, mungkin mendekat pun orang lain akan jijik. Dari Ibnu Umar, pernah dia duduk bersama Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam kemudian beliau bersabda: "ALLAAHUMMAGHFIRLIY WATUB ALAYYA INNAKA ANTAT TAWWAABUL GHAFUR, (Ya Allah, ampunilah aku dan terimalah taubatku, Engkau adalah Maha Penerima Taubat)." Sehingga seseorang menghitung seratus kali dengan tangannya (HR. Ahmad).

Duhai Jiwa, tahu dirilah bahwa engkau ini tidak ada jaminan dosamu yang banyak itu diampuni. Namun, berapa kali engkau bertaubat dalam sehari semalam? Bagaimana konsistensi dzikir pagi petangmu? Dalam Kitab Al-Jami’, Abu Musa al-Asy'ary berkata: Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam membaca doa yang artinya: "Ya Allah, ampunilah dosaku, kebodohanku, keborosanku dalam urusanku, dan apa-apa yang Engkau lebih mengetahuinya daripada diriku. Ya Allah ampunilah diriku karena kesungguhanku, senda gurauku, kesalahanku, dan kesengajaanku, semuanya itu ada padaku. Ya Allah, ampunilah diriku dari dosa yang telah dan aku lakukan, apa yang aku sembunyikan, apa yang aku tampakkan, dan apa yang Engkau lebih mengetahuinya daripada diriku. Engkau yang memajukan, Engkau yang mengundurkan, dan Engkau berkuasa atas segala sesuatu." (Muttafaq Alaihi)

Duhai jiwa, jikalau manusia yang paling mulia saja do’anya seperti ini, bagaimana dengan dirimu? Oh betapa angkuhnya engkau selama ini. Sempatkah engkau bangun di sepertiga malam terakhir, merengek untuk diampuni dosa-dosamu? Jangan-jangan engkau hanya menghabiskan malam-malammu untuk terlelap, seolah-olah engkau tidak butuh dengan waktu-waktu yang mustajab. Duhai jiwa, berlatihlah untuk engkau sempatkan bangun di sepertiga malam terakhir meski belum bisa menghidupkan semua malam. Tapi, belajarlah karena di sana engkau akan merasakan kelezatan yang akan selalu engkau rindukan. Sungguh! Muhammad al-Waraq mengatakan dalam syairnya: Berikanlah taubat yang diharapkan untuk jiwamu, sebelum kematian dan sebelum lisan-lisan dibelenggu. Bersegeralah menutup jiwa dengan taubat. Karena sesungguhnya, taubat adalah simpanan dan harta berharga bagi orang yang ingin kembali lagi berbuat kebaikan. Duhai jiwa, teruslah bertaubat kemudian kembalilah!

"Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu Kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi).” (Qs. Az-Zumar(39): 54)

Jika kaki seorang hamba sudah mantap berada di tempat persinggahan taubat, maka setelah itu dia beralih ke tempat persinggahan "Inabah" (kembali kepada Allah) begitu kata Ibnul Qayyim Al Jauziyah. Rawatlah taubatmu dengan baik, jangan engkau kotori lagi jiwamu.

Duhai jiwa yang telah bertaubat, sungguh hanya orang-orang yang kembali mau mengambil pelajaran dari ayat-ayat Allah dan menjadikannya sebagai peringatan. Maka dengarkanlah firman Allah dalam Qs. Qaaf(50): 6-8 "Maka apakah mereka tidak melihat akan langit yang ada di atas mereka, bagaimana kami meninggikannya dan menghiasinya dan langit itu tidak mempunyai retak-retak sedikitpun ? Dan kami hamparkan bumi itu dan kami letakkan padanya gunung-gunung yang kokoh dan kami tumbuhkan padanya segala macam tanaman yang indah dipandang mata, Untuk menjadi pelajaran dan peringatan bagi tiap-tiap hamba yang kembali (mengingat Allah).” Duhai jiwa yang telah bertaubat, pahala dan syurga Allah itu hanya diperuntukkan bagi hamba-hamba yang takut dan kembali kepada-Nya. Tadabburilah firman Allah dalam Qs. Qaaf(50): 31-34 ;

"Dan didekatkanlah syurga itu kepada orang-orang yang bertakwa pada tempat yang tiada jauh (dari mereka). Inilah yang dijanjikan kepadamu, (yaitu) kepada setiap hamba yang selalu kembali (kepada Allah) lagi memelihara (semua peraturan-peraturan-Nya). (yaitu) orang yang takut kepada Tuhan yang Maha Pemurah sedang dia tidak kelihatan (olehnya) dan dia datang dengan hati yang bertaubat, Masukilah syurga itu dengan aman, Itulah hari kekekalan.” Untukmu duhai setiap jiwa yang sedang melakukan pendakian. Biasanya engkau sebut menuju puncak kesuksesan. Atau apapun itu namanya dalam versimu. Segeralah kembali pada Allah, jika engkau telah terlampau jauh melangkah dan melupakan sesutau yang sangat berharga untuk engkau bawa pada puncak pendakianmu. Jangan sampai, engkau terlanjur tiba di puncak versimu namun baru tersadar bahwa bukan puncak ini yang engkau cari. Sayang, jika waktu yang sempit ini engkau habiskan untuk mengejar sesuatu yang nantinya membuatmu menyesal. Ya, kembalilah pada Allah. Ataukah engkau baru ingin kembali setelah Allah memberikan peringatan seperti kebanyakan manusia? Sekali lagi kembalilah pada Allah, kemudian tunggulah kabar gembira dari-Nya.

"Dan orang-orang yang menjauhi thaghut (yaitu) tidak menyembahnya dan kembali kepada Allah, bagi mereka berita gembira; sebab itu sampaikanlah berita itu kepada hamba- hamba-Ku,” (Qs. Az-Zumar(39): 17)

Terakhir, untukmu duhai jiwaku yang sedang melakukan pendakian. Kembalilah untuk memperkuat keyakinan bahwa Allahlah yang telah menciptakan aku, maka Dia yang memberi petunjuk kepadaku. Allahlah yang Maha memberi rezeki, maka Dia memberi makan dan minum kepadaku. Dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkanku. Dialah Allah yang mendatangkan bahaya dan manfaat. Dialah Allah yang akan mematikan aku, kemudian akan menghidupkan aku kembali. Dialah Allah yang sangat kuinginkan akan mengampuni kesalahanku pada hari kiamat.

Jadi, aku ini tidaklah memiliki kekuatan untuk mendaki kecuali dari Allah. Maka sungguh sangat tidak pantas jika aku mencari sesembahan selain Allah. Ya, hanya kepada Allah aku beribadah. Sesungguhnya shalatku, puasaku, hajiku, do’a-do’aku, nadzarku, sembelihanku, pengharapanku, rasa cemasku, takutku, hidupku dan matiku hanya untuk Allah, Rabb semesta alam. Oh sungguh malu aku di hadapan Allah, jika hanya sisa-sisa waktu yang kugunakan untuk beribadah kepada-Nya.

Duhai Rabbku, aku bertaubat kepada-Mu, aku kembali kepada-Mu. Kasihani dan sayangilah hambamu yang hina. Hambamu yang tidak tahu diri ini. Anugrahkanlah kepadaku ilmu yang bermanfaat, rezeki yang bermanfaat dan terimalah amalanku.

"Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, Masuklah ke dalam syurga-Ku.” (Qs. Al-Fajr(89): 27-30).

Karena puncak yang tertinggi itu adalah menatap wajah Allah di Syurga.
For Every Climbers Heart, Semoga kita termasuk di dalamnya. Amin.


Sumber Inspirasi: Kitab Madarijus Salikin, Karya Ibnu Qayyim Al-Jauziyah

(Subhan Husain / http://tauhidmission.blogspot.com)

Kemuliaan Itu, Ada Pada Agama yang Mulia


Kadar dan ketentuan bagi manusia telah dicatatkan pada kitab Al Mahfudz,
Tak ada pula manusia yang mengetahui-batasan pada dirinya

Bukan menyalahkan ketetapan,
Buka pula menyesalinya,
tapi,
berupaya kembali berbenah diri,
berupaya kembali berbbenah diri,
berupaya kembali berbenah diri...

Tiada medan kehidupan itu yang mudah,
tak juga kita maunya senantiasa mulus dan lurus saja,

adakalanya fitnah dapat ditahan dari hal yang sudah menjadi gejolak umum,
tapi, terkadang kita lupa
bahwa fitnah dapat hadir dari air yang tenang,
bahkan air yang biasa kita gunakan dalam keseharian kita...

Subhanallah...
Tak ada yang mengetahui hari esok...

Tatkala dunia telah menjadi pandangan utama pada sebuah kehidupan,
maka ajaran agama yang "selalu" jadi aspek penyebabnya...

Tatkala kita telah menjadikan dunia sebagai cita-cita pada masa depan,
maka ajaran agama yang "selalu" jadi aspek penyebabnya...

Ingat, Ajaran Agama Islam yang Mulia ini, tak pernah salah,
tak pula ada kekeliruan didalamnya,
aturan yang ditetapkan bagi ummat ini, itulah aturan yang terbaik sepanjang masa,
karena kemulian itu ada pada ajaran yang mulia,
Yaitu Agama Islam...

Kiriman: haunan.com

Rabu, 26 September 2012

Memaknai Cinta; Proses Manifestasi Kata

 
Banyak orang yang mengaku memiliki cinta, maka mereka dituntut untuk menyodorkan bukti pengakuan itu. Andaikan mereka diberi kesempatan untuk menyampaikan pengakuannya, maka kesaksian mereka akan beragam. Lalu dikatakan, "Pengakuan ini tidak bisa diterima kecuali ada buktinya." Begitu kata Ibnu Qayyim Al-Jauziyah dalam kitab Madarijus Salikin. Proses untuk menunjukkan sebuah bukti adalah sebuah kemutlakan dalam pengakuan kata cinta. Memaknai cinta adalah proses pembuktian kata-kata secara tulus. Karena dengan perbuatan akan nampak siapa pencinta sejati dan siapa yang berdusta dengan cintanya.

Memaknai Cinta 

Menurut bahasa, kata cinta (mahabbah) berkisar pada lima perkara: 1) Putih dan cemerlang, seperti kata hababul-asnan yang berarti gigi yang putih cemerlang. 2) Tinggi dan tampak jelas, seperti kata hababul-ma'i wa hubabuhu, yang berarti banjir karena air hujan yang deras. 3) Teguh dan tidak tergoyahkan, seperti kata habbal-ba'ir, yang berarti onta yang sedang menderum dan tidak mau bangkit lagi. 4) Inti dan relung, seperti kata habbatul-qalbi, yang berarti relung hati. 5) Menjaga dan menahan, seperti kata hibbul-ma'i lil-wi'a', yang berarti air yang terjaga di dalam bejana.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, cinta berarti suka sekali, berharap sekali, terpikat (antara laki-laki dan perempuan) dan susah hati (khawatir). Intinya menunjukkan bahwa cinta itu mengandung segala makna kasih sayang, penghargaan dan kerinduan juga mengandung makna persiapan untuk menempuh kehidupan dikala suka dan duka, lapang dan sempit. Secara sederhana cinta adalah fitrah terindah yang dianugrahkan Rabb Yang Maha Menciptakan cinta kepada manusia. Cinta seorang laki-laki kepada wanita dan cinta wanita kepada laki-laki adalah perasaan manusiawi yang bersumber dari fitrah yang diciptakan Allah Shubhanahu Wata’ala di dalam jiwa manusia. Yaitu kecenderungan kepada lawan jenisnya ketika telah mencapai kematangan pikiran dan fisiknya. ”Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (QS. Ar-Ruum (30): 21)

Setiap anak manusia yang telah mengenal kata cinta tentu memiliki pemaknaan tersendiri terhadap cinta. Ya, setiap kita berhak dan bebas memaknai cinta. Namun, jangan lupa bahwa setiap pemaknaan kata dan gerak bahkan setiap lintasan-lintasn pikiran punya konsekuensi dan harus siap mempertanggung jawabkannya. Maka pada “risalah cinta sederhana” ini, kami hendak menyuguhkan pemaknaan cinta yang teragung, tertinggi dan terindah. Makna cinta yang mampu memberikan keteduhan dan kedamaian dalam jiwa. Cinta yang rasanya manis, penuh dengan kelezatan dan siapa yang tidak memilikinya hidupnya adalah gelisahan dan penderitaan yang berkepanjangan. Cinta yang mampu memberikan kehidupan dan setiap orang yang tidak memilikinya bagaikan mayat yang berjalan. Cinta yang luasnya bagai lautan tak bertepi. Cinta yang mampu memberikan cahaya pada alirah darah, dalam daging dan persendian hingga cahaya dalam tempat penantian hari kebangkitan. Siapa yang tidak memiliki cinta ini seperti berada di tengah lautan yang gelap gulita. Cinta yang mengantarkan pada pertemuan dengan sang kekasih.

Ibnu Qayyim Al-Jauziyah mengatakan. ”Demi Allah, para pemilik cinta telah pergi membawa kemuliaan dunia dan akhirat, sehingga akhirnya senantiasa bersama sang kekasih. Allah telah menetapkan bahwa seseorang itu bersama orang yang paling dicintainya. Sungguh ini merupakan kenikmatan tiada tara yang diberikan kepada orang-orang yang memiliki cinta. Mereka memenuhi panggilan kerinduan, saat ada yang berseru kepada mereka, "Hayya alal-falah". Mereka rela mengorbankan jiwa agar bisa bersama sang kekasih. Pengorbanan ini dilakukan dengan suka rela dan ridha, rela melakukan perjalanan pada pagi dan petang hari.”

Dengarkanlah ungkapan cinta yang sangat indah dari seorang pemuda, sebagaimana pernah dituturkan oleh Abu Bakar Al-Kattany. "Di Makkah diadakan dialog tentang masalah cinta, tepatnya pada musim haji. Banyak syaikh yang mengungkapkan pendapatnya tentang cinta. Sementara Al-Junaid saat itu merupakan orang yang paling muda di antara mereka. Orang-orang berkata kepadanya, "Sampaikan pendapatmu wahai penduduk dari Irak." Beberapa saat Al- Junaid menundukkan pandangannya dan air matanya pun menetes perlahan-lahan. Dia berkata, "Cinta ialah jika seorang hamba lepas dari dirinya, senantiasa menyebut nama Rabb-nya, memenuhi hak-hak-Nya, memandang kepada-Nya dengan sepenuh hati, seakan hatinya terbakar karena cahaya ketakutan kepada-Nya, yang minumannya berasal dari gelas kasih sayang-Nya, dan Allah Yang Maha Perkasa menampakkan Diri dari balik tabir kegaiban-Nya. Jika berbicara atas pertolongan Allah, jika berucap berasal dari Allah, jika bergerak atas perintah Allah, jika dia beserta Allah, dia dari Allah, bersama Allah dan milik Allah." Mendengar ungkapannya ini semua syaikh yang hadir di sana menangis, dan mereka berkata, "Ungkapan ini sudah tidak memerlukan tambahan lagi. Semoga Allah melimpahkan pahala kepadamu wahai mahkota orang-orang yang arif."

Dengarkanlah ungkapan cinta Imam Syafi’i ketika ditanya oleh istrinya, “Suamiku apakah engkau mencintaiku?” Beliau menjawab, “Ya tentu saja, dirimu bagian dalam hidupku.” Mendengar itu istrinya bertanya, “Apakah engkau juga mencintai Allah? Bagaimana mungkin dua cinta menyatu dalam hati seorang mukmin, cinta kepada Allah dan juga mencintaiku?” beliau ternsenyum dan mengatakan kepada istrinya dengan pandangan mata yang lembut penuh kasih sayang. “Karena cintaku kepada Allah maka aku mencintai makhluknya, memperlakukan dengan hormat dan penuh kasih sayang istriku, anak-anakku dan sesama. Aku mencintaimu karena cintaku kepada Allah.”

Proses Pembuktian Kata Cinta

“Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Ali ‘Imran(3): 31) Proses pembuktian kata cinta adalah proses memanifestasikan seluruh apa yang dicintai dan diridhai Allah Shubhanahu wa ta'ala baik berupa ucapan atau perbuatan, yang zhahir maupun yang batin. Jadi, proses pembuktian cinta yang sejati adalah proses pemurnian keyakinan bahwa tidak ada ilah yang berhak disembah kecuali Allah. Pemurnian penyembahan kepada Allah. Pengagungan nama-nama Allah yang sempurna. Lalu puncak pembuktian yang tertinggi adalah lewat proses pensucian jihad pada waktu dan tempat yang dibenarkan syariat. ”Mereka berjihad dijalan Allah, dan tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela.” (Al-Maaidah(5): 54). Cinta Allah itu merupakan sifat yang sesuai dengan keagungan-Nya. la merupakan sifat Fi'liyah, yang muncul disebabkan dilaksanakannya perintah Allah, yaitu ibadah kepada Allah dengan baik dan perbuatan baik kepada hamba-hamba-Nya. "Dan Dia Maha Pengampun dan Maha Pencinta dengan kecintaan yang murni." (QS. Al-Buruuj(85) : 14) Al-Wudd artinya kecintaan yang bersih dan murni. Begitu kata Syaikh Al-Islam Ibnu Taimiyah dalam kitab Syarah Al-Aqidah Al-Wasithiyah. Ibnu Qayyim berkata: "Ibadah kepada Ar-Rahman adalah cinta yang dalam kepada-Nya, beserta kepatuhan penyembah-Nya. Dua hal ini adalah ibarat dua kutub. Di atas keduanyalah orbit ibadah beredar. Ia tidak beredar sampai kedua kutub itu berdiri tegak. Sumbunya adalah perintah, perintah rasul-Nya. Bukan hawa nafsu dan syetan." Ibnu Qayyim menyerupakan beredarnya ibadah di atas rasa cinta dan tunduk bagi yang dicintai, yaitu Allah Subhanahu wa ta'ala dengan beredarnya orbit di atas dua kutubnya. Beliau juga menyebutkan bahwa beredarnya orbit ibadah adalah berdasarkan perintah rasul dan syari'atnya, bukan berdasarkan hawa nafsu dan setan. Karena hal yang demikian bukanlah ibadah. Apa yang disyari'atkan baginda Rasul Shallallahu 'alaihi wa sallam itulah yang memutar orbit ibadah. Ia tidak diputar oleh bid'ah, nafsu dan khurafat. Di dalam Ash-Shahih disebutkan dari Anas bin Malik Radhiyallahu Anhu, dia berkata, "Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ”Tiga perkara, siapa yang apabila tiga perkara ini ada padanya, maka dia akan mendapatkan manisnya iman, yaitu: Hendaklah Allah dan Rasul-Nya lebih dia cintai daripada (cintanya kepada) selain keduanya, dia mencintai seseorang dan tidak mencintainya melainkan karena Allah, dan dia benci kembali kepada kekufuran setelah Allah menyelamatkannya dari kekufuran itu, sebagaimana dia benci dilemparkan ke neraka." Memaknai cinta sebagai proses pembuktian kata, jikalau ia adalah pohon maka harus berakar dengan akar keikhlasan dan mencintai kekasih Sang Pencipta. Sebagaimana cinta Umar bin Khattab Radiallahu ’Anhu. Ibn Ma’bad bin Abdillah dari kakeknya (Abdullah ibn Hisyam) pernah bersama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan ketika itu Rasulullah memegang tangan Umar bin Khattab Radiallahu ‘Anhu. Maka Umar pun berkata, “Demi Allah, ya Rasulullah. Sungguh engkau lebih aku cintai dari segala sesuatu kecuali diriku.” Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pun menanggapi, “Demi Dzat yang jiwaku di tangan-Nya. Sampai aku lebih engkau cintai dari dirimu sendiri.” Kemudian Umar pun berkata, ”Sejak saat ini engkau lebih aku cintai dari pada diriku sendiri.” Maka Rasulullah pun menyambut, ”Ya begitu Umar (HR. Bukhari). Dalam hadist lain, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, ”Tidaklah beriman kalian sampai aku lebih dicintai oleh kalian dari pada orang tua, anak dan segenap manusia. (HR. Bukhari)

Pembuktian Cinta Tidak Bisa Dibatasi

Cinta tidak bisa dibatasi dengan batasan-batasan tertentu. Cinta tidak bisa dibatasi oleh ruang dan waktu. Cinta bisa menancap kuat dan akarnya bisa menembus bebatuan yang paling keras. Cabang-cabangnya menjulang tinggi hingga mencapai Sidratul-Muntaha. Ya cinta bisa menembus tujuh lapis. Maka sungguh menyedihkan sebagian orang yang hanya membuktikan cintanya sehari dalam setahun yakni pada setiap tanggal 14 februari atau cinta itu hanyalah sekedar perayaan. Kalaulah 14 februari memang ada sejarah cinta yang patut untuk dikenang, maka sungguh menyedihkan jika seorang mukmin ikut-ikutan mengenang apa yang dikenang oleh ummat di luar Islam dan tidak pernah dicontohkan oleh generasi terbaik Islam. ”Barangsiapa yang mengada-adakan sesuatu dalam agama kami ini, sesuatu yang tidak ada dasar daripadanya maka itu pasti tertolak.” (HR. Bukhari dan Muslim). Tanggal 14 Februari 269 M adalah hari dihukum pancungnya seorang pendeta bernama Santo Valentine’s oleh seorang Raja Romawi bernama Claudus II Ghoticus karena menikahkan seorang prajurit muda yang sedang menjalani cinta kasih. Sementara tindakan ini dianggap bertentangan dengan ketentuan kerajaan. Bagi pihak gereja, tindakan tersebut dianggap sebagai pahlawan sehingga Santo Valentine’s dinobatkan sebgai pahlawan kasih sayang dan hari digantungnya diperingati sebagai hari kasih sayang. Membatasi cinta dengan hari atau dengan batasan-batasan apa pun itu akan membuat cinta semakin sulit dideteksi dan tersembunyi bahkan cinta akan ternodai. Kata Ibnu Qayyim, ”Batasan cinta adalah keberadaannya. Tidak ada sifat yang lebih pas untuk cinta selain dari kata cinta itu sendiri. Manusia hanya sekedar bicara tentang sebab, pendorong, tanda, bukti, buah dan hukum-hukumnya. Batasan diri mereka berkisar pada enam unsur ini, dan pengungkapan mereka berbeda-beda, tergantung dari batas pengetahuan, kedudukan, keadaan dan kemampuan masing-masing dalam mengungkapkan cinta.” Berarti, mengenal cinta butuh tarbiyah. Wallahu ’Alam.

Subhan Husain

Link sumber: http://tauhidmission.blogspot.com/2012/02/memaknai-cinta-proses-pembuktian-kata.html

Senin, 24 September 2012

I S T I Q O M A H LAH.......!!!

 
Istiqomah. Alangkah mudah mengucapkan kata-kata itu. Alangkah mudah bagi kita menasehati saudara kita mengenai keistiqomahan manakala kita sedang berada di puncak iman kita. Tetapi kata-kata itu mendadak terasa berat ketika iman kita sedang terpuruk.

Saudaraku, istiqomah memang berat, tetapi tidaklah pantas bagi kita untuk meninggalkan yang berat dan memilih memungut yang tersisa dalam lingkaran kemudahan dalam beragama.

Saudaraku, istiqomah memang berat manakala kita terasing seorang diri dalam perjalanan dakwah yang maha berat, maka marilah kita saling menggenggam jemari. Sama-sama dalam amal jama’i untuk saling mengingatkan ketika rasa keistiqomahan sudah mulai pudar dalam hati ini.

Saudaraku, tak mudah berpaling seorang diri mengatakan “aku bisa”, ketika iman sedang berada di puncak ubun-ubun kepala. Saudaraku, percayalah akan hatimu yang selalu berada dalam genggaman-Nya. Amat mudah bagi-Nya membolak-balik hati kita.

Dan saksikanlah ketika lambat laun, amal ibadah kita akan mengelupas hanya karena hilangnya satu kata: istiqomah.

Maka, janganlah seperti petasan yang meledak dahsyat, di awal, dan setelah itu hanya meninggalkan serpihan-serpihan tak berarti dalam ringannya bobot ibadah pada Illahi.

Marilah saling menggenggam jemari, mengingatkan hati yang mulai ternodai, bersatu dalam amal jama’i, membentuk keistiqomahan sejati, demi menggapai ridho Illahi, hingga akhirnya semoga kita bisa membangun negeri. Kitalah solusi bangsa ini.
Dari tulisan seseorang...
wallohu alam 
 
Sumber: abidmenulis.blogspot.com

 
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...