Banyak orang yang mengaku memiliki cinta, maka mereka dituntut untuk
menyodorkan bukti pengakuan itu. Andaikan mereka diberi kesempatan untuk
menyampaikan pengakuannya, maka kesaksian mereka akan beragam. Lalu
dikatakan, "Pengakuan ini tidak bisa diterima kecuali ada buktinya."
Begitu kata Ibnu Qayyim Al-Jauziyah dalam kitab Madarijus Salikin.
Proses untuk menunjukkan sebuah bukti adalah sebuah kemutlakan dalam
pengakuan kata cinta. Memaknai cinta adalah proses pembuktian kata-kata
secara tulus. Karena dengan perbuatan akan nampak siapa pencinta sejati
dan siapa yang berdusta dengan cintanya.
Memaknai Cinta
Menurut bahasa, kata cinta (mahabbah) berkisar pada lima perkara: 1)
Putih dan cemerlang, seperti kata hababul-asnan yang berarti gigi yang
putih cemerlang. 2) Tinggi dan tampak jelas, seperti kata hababul-ma'i
wa hubabuhu, yang berarti banjir karena air hujan yang deras. 3) Teguh
dan tidak tergoyahkan, seperti kata habbal-ba'ir, yang berarti onta yang
sedang menderum dan tidak mau bangkit lagi. 4) Inti dan relung, seperti
kata habbatul-qalbi, yang berarti relung hati. 5) Menjaga dan menahan,
seperti kata hibbul-ma'i lil-wi'a', yang berarti air yang terjaga di
dalam bejana.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, cinta berarti suka sekali,
berharap sekali, terpikat (antara laki-laki dan perempuan) dan susah
hati (khawatir). Intinya menunjukkan bahwa cinta itu mengandung segala
makna kasih sayang, penghargaan dan kerinduan juga mengandung makna
persiapan untuk menempuh kehidupan dikala suka dan duka, lapang dan
sempit. Secara sederhana cinta adalah fitrah terindah yang dianugrahkan
Rabb Yang Maha Menciptakan cinta kepada manusia. Cinta seorang laki-laki
kepada wanita dan cinta wanita kepada laki-laki adalah perasaan
manusiawi yang bersumber dari fitrah yang diciptakan Allah Shubhanahu
Wata’ala di dalam jiwa manusia. Yaitu kecenderungan kepada lawan
jenisnya ketika telah mencapai kematangan pikiran dan fisiknya. ”Dan di
antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah dia menciptakan untukmu
isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa
tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang.
Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda
bagi kaum yang berfikir.” (QS. Ar-Ruum (30): 21)
Setiap anak manusia yang telah mengenal kata cinta tentu memiliki
pemaknaan tersendiri terhadap cinta. Ya, setiap kita berhak dan bebas
memaknai cinta. Namun, jangan lupa bahwa setiap pemaknaan kata dan gerak
bahkan setiap lintasan-lintasn pikiran punya konsekuensi dan harus siap
mempertanggung jawabkannya. Maka pada “risalah cinta sederhana” ini,
kami hendak menyuguhkan pemaknaan cinta yang teragung, tertinggi dan
terindah. Makna cinta yang mampu memberikan keteduhan dan kedamaian
dalam jiwa. Cinta yang rasanya manis, penuh dengan kelezatan dan siapa
yang tidak memilikinya hidupnya adalah gelisahan dan penderitaan yang
berkepanjangan. Cinta yang mampu memberikan kehidupan dan setiap orang
yang tidak memilikinya bagaikan mayat yang berjalan. Cinta yang luasnya
bagai lautan tak bertepi. Cinta yang mampu memberikan cahaya pada alirah
darah, dalam daging dan persendian hingga cahaya dalam tempat penantian
hari kebangkitan. Siapa yang tidak memiliki cinta ini seperti berada di
tengah lautan yang gelap gulita. Cinta yang mengantarkan pada pertemuan
dengan sang kekasih.
Ibnu Qayyim Al-Jauziyah mengatakan. ”Demi Allah, para pemilik cinta
telah pergi membawa kemuliaan dunia dan akhirat, sehingga akhirnya
senantiasa bersama sang kekasih. Allah telah menetapkan bahwa seseorang
itu bersama orang yang paling dicintainya. Sungguh ini merupakan
kenikmatan tiada tara yang diberikan kepada orang-orang yang memiliki
cinta. Mereka memenuhi panggilan kerinduan, saat ada yang berseru kepada
mereka, "Hayya alal-falah". Mereka rela mengorbankan jiwa agar bisa
bersama sang kekasih. Pengorbanan ini dilakukan dengan suka rela dan
ridha, rela melakukan perjalanan pada pagi dan petang hari.”
Dengarkanlah ungkapan cinta yang sangat indah dari seorang pemuda,
sebagaimana pernah dituturkan oleh Abu Bakar Al-Kattany. "Di Makkah
diadakan dialog tentang masalah cinta, tepatnya pada musim haji. Banyak
syaikh yang mengungkapkan pendapatnya tentang cinta. Sementara Al-Junaid
saat itu merupakan orang yang paling muda di antara mereka. Orang-orang
berkata kepadanya, "Sampaikan pendapatmu wahai penduduk dari Irak."
Beberapa saat Al- Junaid menundukkan pandangannya dan air matanya pun
menetes perlahan-lahan. Dia berkata, "Cinta ialah jika seorang hamba
lepas dari dirinya, senantiasa menyebut nama Rabb-nya, memenuhi
hak-hak-Nya, memandang kepada-Nya dengan sepenuh hati, seakan hatinya
terbakar karena cahaya ketakutan kepada-Nya, yang minumannya berasal
dari gelas kasih sayang-Nya, dan Allah Yang Maha Perkasa menampakkan
Diri dari balik tabir kegaiban-Nya. Jika berbicara atas pertolongan
Allah, jika berucap berasal dari Allah, jika bergerak atas perintah
Allah, jika dia beserta Allah, dia dari Allah, bersama Allah dan milik
Allah." Mendengar ungkapannya ini semua syaikh yang hadir di sana
menangis, dan mereka berkata, "Ungkapan ini sudah tidak memerlukan
tambahan lagi. Semoga Allah melimpahkan pahala kepadamu wahai mahkota
orang-orang yang arif."
Dengarkanlah ungkapan cinta Imam Syafi’i ketika ditanya oleh istrinya,
“Suamiku apakah engkau mencintaiku?” Beliau menjawab, “Ya tentu saja,
dirimu bagian dalam hidupku.” Mendengar itu istrinya bertanya, “Apakah
engkau juga mencintai Allah? Bagaimana mungkin dua cinta menyatu dalam
hati seorang mukmin, cinta kepada Allah dan juga mencintaiku?” beliau
ternsenyum dan mengatakan kepada istrinya dengan pandangan mata yang
lembut penuh kasih sayang. “Karena cintaku kepada Allah maka aku
mencintai makhluknya, memperlakukan dengan hormat dan penuh kasih sayang
istriku, anak-anakku dan sesama. Aku mencintaimu karena cintaku kepada
Allah.”
Proses Pembuktian Kata Cinta
“Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku,
niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha
Pengampun lagi Maha Penyayang.”
(QS. Ali ‘Imran(3): 31)
Proses pembuktian kata cinta adalah proses memanifestasikan seluruh apa
yang dicintai dan diridhai Allah Shubhanahu wa ta'ala baik berupa
ucapan atau perbuatan, yang zhahir maupun yang batin. Jadi, proses
pembuktian cinta yang sejati adalah proses pemurnian keyakinan bahwa
tidak ada ilah yang berhak disembah kecuali Allah. Pemurnian penyembahan
kepada Allah. Pengagungan nama-nama Allah yang sempurna. Lalu puncak
pembuktian yang tertinggi adalah lewat proses pensucian jihad pada waktu
dan tempat yang dibenarkan syariat. ”Mereka berjihad dijalan Allah, dan
tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela.” (Al-Maaidah(5):
54).
Cinta Allah itu merupakan sifat yang sesuai dengan keagungan-Nya. la
merupakan sifat Fi'liyah, yang muncul disebabkan dilaksanakannya
perintah Allah, yaitu ibadah kepada Allah dengan baik dan perbuatan baik
kepada hamba-hamba-Nya. "Dan Dia Maha Pengampun dan Maha Pencinta
dengan kecintaan yang murni." (QS. Al-Buruuj(85) : 14) Al-Wudd artinya
kecintaan yang bersih dan murni. Begitu kata Syaikh Al-Islam Ibnu
Taimiyah dalam kitab Syarah Al-Aqidah Al-Wasithiyah.
Ibnu Qayyim berkata: "Ibadah kepada Ar-Rahman adalah cinta yang dalam
kepada-Nya,
beserta kepatuhan penyembah-Nya. Dua hal ini adalah ibarat dua kutub. Di
atas keduanyalah orbit ibadah beredar. Ia tidak beredar sampai kedua
kutub itu berdiri tegak. Sumbunya adalah perintah, perintah rasul-Nya.
Bukan hawa nafsu dan syetan." Ibnu Qayyim menyerupakan beredarnya ibadah
di atas rasa cinta dan tunduk bagi yang dicintai, yaitu Allah Subhanahu
wa ta'ala dengan beredarnya orbit di atas dua kutubnya. Beliau juga
menyebutkan bahwa beredarnya orbit ibadah adalah berdasarkan perintah
rasul dan syari'atnya, bukan berdasarkan hawa nafsu dan setan. Karena
hal yang demikian bukanlah ibadah. Apa yang disyari'atkan baginda Rasul
Shallallahu 'alaihi wa sallam itulah yang memutar orbit ibadah. Ia tidak
diputar oleh bid'ah, nafsu dan khurafat.
Di dalam Ash-Shahih disebutkan dari Anas bin Malik Radhiyallahu Anhu,
dia berkata, "Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ”Tiga
perkara, siapa yang apabila tiga perkara ini ada padanya, maka dia akan
mendapatkan manisnya iman, yaitu: Hendaklah Allah dan Rasul-Nya lebih
dia cintai daripada (cintanya kepada) selain keduanya, dia mencintai
seseorang dan tidak mencintainya melainkan karena Allah, dan dia benci
kembali kepada kekufuran setelah Allah menyelamatkannya dari kekufuran
itu, sebagaimana dia benci dilemparkan ke neraka."
Memaknai cinta sebagai proses pembuktian kata, jikalau ia adalah pohon
maka harus berakar dengan akar keikhlasan dan mencintai kekasih Sang
Pencipta. Sebagaimana cinta Umar bin Khattab Radiallahu ’Anhu. Ibn
Ma’bad bin Abdillah dari kakeknya (Abdullah ibn Hisyam) pernah bersama
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan ketika itu Rasulullah
memegang tangan Umar bin Khattab Radiallahu ‘Anhu. Maka Umar pun
berkata, “Demi Allah, ya Rasulullah. Sungguh engkau lebih aku cintai
dari segala sesuatu kecuali diriku.” Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi
Wasallam pun menanggapi, “Demi Dzat yang jiwaku di tangan-Nya. Sampai
aku lebih engkau cintai dari dirimu sendiri.” Kemudian Umar pun berkata,
”Sejak saat ini engkau lebih aku cintai dari pada diriku sendiri.” Maka
Rasulullah pun menyambut, ”Ya begitu Umar (HR. Bukhari). Dalam hadist
lain, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, ”Tidaklah
beriman kalian sampai aku lebih dicintai oleh kalian dari pada orang
tua, anak dan segenap manusia. (HR. Bukhari)
Pembuktian Cinta Tidak Bisa Dibatasi
Cinta tidak bisa dibatasi dengan batasan-batasan tertentu. Cinta tidak
bisa dibatasi oleh ruang dan waktu. Cinta bisa menancap kuat dan akarnya
bisa menembus bebatuan yang paling keras. Cabang-cabangnya menjulang
tinggi hingga mencapai Sidratul-Muntaha. Ya cinta bisa menembus tujuh
lapis. Maka sungguh menyedihkan sebagian orang yang hanya membuktikan
cintanya sehari dalam setahun yakni pada setiap tanggal 14 februari atau
cinta itu hanyalah sekedar perayaan. Kalaulah 14 februari memang ada
sejarah cinta yang patut untuk dikenang, maka sungguh menyedihkan jika
seorang mukmin ikut-ikutan mengenang apa yang dikenang oleh ummat di
luar Islam dan tidak pernah dicontohkan oleh generasi terbaik Islam.
”Barangsiapa yang mengada-adakan sesuatu dalam agama kami ini, sesuatu
yang tidak ada dasar daripadanya maka itu pasti tertolak.” (HR. Bukhari
dan Muslim). Tanggal 14 Februari 269 M adalah hari dihukum pancungnya
seorang pendeta bernama Santo Valentine’s oleh seorang Raja Romawi
bernama Claudus II Ghoticus karena menikahkan seorang prajurit muda yang
sedang menjalani cinta kasih. Sementara tindakan ini dianggap
bertentangan dengan ketentuan kerajaan. Bagi pihak gereja, tindakan
tersebut dianggap sebagai pahlawan sehingga Santo Valentine’s dinobatkan
sebgai pahlawan kasih sayang dan hari digantungnya diperingati sebagai
hari kasih sayang.
Membatasi cinta dengan hari atau dengan batasan-batasan apa pun itu akan
membuat cinta semakin sulit dideteksi dan tersembunyi bahkan cinta akan
ternodai. Kata Ibnu Qayyim, ”Batasan cinta adalah keberadaannya. Tidak
ada sifat yang lebih pas untuk cinta selain dari kata cinta itu sendiri.
Manusia hanya sekedar bicara tentang sebab, pendorong, tanda, bukti,
buah dan hukum-hukumnya. Batasan diri mereka berkisar pada enam unsur
ini, dan pengungkapan mereka berbeda-beda, tergantung dari batas
pengetahuan, kedudukan, keadaan dan kemampuan masing-masing dalam
mengungkapkan cinta.” Berarti, mengenal cinta butuh tarbiyah. Wallahu
’Alam.
Subhan Husain
Link sumber: http://tauhidmission.blogspot.com/2012/02/memaknai-cinta-proses-pembuktian-kata.html