Tampilkan postingan dengan label Akidah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Akidah. Tampilkan semua postingan

Minggu, 25 Januari 2015

MAU RAYA’IN “VALENTINE’S DAY” ?




Pada bulan Februari, akan banyak kita melihat pusat hiburan, mal-mal dan berbagai media cetak dan online mulai bersibuk ria dalam berlomba menarik perhatian para remaja. Tema yang dipertunjukkan sudah telah sering di ulang-ulangi dari tahun ketahun yaitu Valentine’s day, hari di mana jutaan remaja tergiring oleh budaya orang-orang pemuja hawa nafsu tentang apa yang popular mereka rayakan di tanggal 14 Februari. Berkirim kartu dan bunga, memberi coklat berbentuk hati dengan ucapan-ucapan cinta palsu, hingga saling bertukar pasangan bukanlah hal yang asing ditemui pada pemberitaan perihal perayaan Valentine’s day tersebut.

Kamis, 22 November 2012

Inilah Doa Terburuk Sepanjang Sejarah



Setiap doa yang dipanjatkan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala harusnya merupakan kata-kata yang baik, bermanfaat untuk keselamatan di dunia apalagi di akhirat. Tapi aneh bin bodoh ada saja doa yang sangat buruk semisal di bawah ini: 

الَّلهُمَّ ارْضَ عَنْ أَبِيْ لُؤْلُؤَةَ وَاحْشُرْنِيْ مَعَهُ

“Ya Allah, ridhailah Abu Lu`lu`ah, dan kumpulkanlah aku bersamanya.”

Demikianlah doa setiap orang yang berziarah ke kuburan Abu Lu’luah si Majusi pembunuh Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu. Dia membunuh Khalifah Umar radhiyallahu ‘anhu di pagi hari saat mengimami manusia shalat subuh.

Doa tersebut adalah salah satu doa terburuk sepanjang sejarah. Bagaimana tidak, mereka meminta dikumpulkan di akhirat dengan orang yang jelas-jelas kekafirannya, pembunuh sahabat dekat sekaligus mertua Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Umar bin Khattab telah dikabarkan kesyahidannya oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sebuah hadits shahih yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik, dia berkata:
“Nabi naik ke Uhud bersamanya Abu Bakar, Umar dan Utsman. Tiba-tiba gunung berguncang. Maka Nabi menghentakkan kakinya dan berkata: Tenanglah Uhud! Yang ada di atasmu tiada lain kecuali Nabi, Shiddiq dan dua orang syahid.”
Umar dan Utsman radhiyallahu anhum pun betul-betul dibunuh sebagai syahid. Ibnu ‘Asakir meriwayatkan dalam Tarikh Damaskus (44/441) dari jalur Thariq ‘Ubaidillah bin Umar dari Nafi’ dari Ibnu ‘Umar, dia berkata, ‘Tatkala Umar ditikam… dia memanggil Abdullah bin ‘Abbas… maka Ibnu ‘Abbas berkata, ‘Wahai Amirul mukminin, tidaklah aku mendatangi sekumpulan kaum muslimin, kecuali mereka semua menangis, seakan-akan mereka kehilangan anak-anak mereka pada hari ini.’ Umar berkata, ‘Siapakah yang membunuhku?’ Dia menjawab, ‘Abu Lu`lu`ah, si Majusi, budak al-Mughirah bin Syu’bah.’ Dia berkata, ‘Maka kamipun melihat kegembiraan di wajahnya, seraya berkata,

الْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ لَمْ يَقْتُلْنِيْ رَجُلٌ يُحَاجِنِيْ بِلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

‘Alhamdulillah, saya tidak dibunuh  oleh seorang laki-laki yang berhujjah melawanku dengan kalimat laa ilaaha illallaah pada hari kiamat.”

Mau lihat kemegahan kuburan Abu Lu’lu’ah yang dibangun oleh pemerintah Republik Syi'ah Iran? Lihat video di bawah ini.


Doa terburuk yang lain bisa Anda lihat pada gambar di bawah ini.
Doa Facebooker Syi'ah. Sumber: lppimakassar.com
Do’a tersebut hanya akan lahir dari orang-orang tak menggunakan akalnya dan hatinya penuh kebencian. Tapi biarlah mereka berdoa seperti itu dan kita ahlu sunnah berdoa sebagaimana sahabat sekaligus pembantu Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam, Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu. Beliau meriwayatkan dalam sebuah hadits:
“Ada seseorang yang bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang hari kiamat, “Kapankah kiamat datang?” Nabi pun shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Apa yang telah engkau persiapkan untuk menghadapinya?” Orang itu menjawab, “Wahai Rasulullah, aku belum mempersiapkan shalat dan puasa yang banyak, hanya saja aku mencintai Allah dan Rasul-Nya” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seseorang (di hari kiamat) akan bersama orang yang dicintainya, dan engkau akan bersama yang engkau cintai.” Anas pun berkata, “Kami tidak lebih bahagia daripada mendengarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Engkau akan bersama orang yang engkau cintai.’” Anas kembali berkata, “Aku mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakar dan Umar, maka aku berharap akan bisa bersama mereka (di hari kiamat), dengan cintaku ini kepada mereka, meskipun aku sendiri belum (bisa) beramal sebanyak amalan mereka.” (HR. Al-Bukhari)
Dan kami pun berdoa sebagaimana do'a Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu di atas. Amin ya Allah.

Makassar, 8 Muharram 1434 H / 22 November 2012

Zainal Lamu (Abinna Fauzan)

Kiriman: alfathonah.blogspot.com

Rabu, 26 September 2012

Imam Syafi’i Rahimahullah dengan Syi’ah

 
Sedikit catatan atas tulisan ”Iran, Syiah, dan Pengaruhnya di Indonesia” Oleh: Ismail Amin di Rubrik Opini Harian Tribun Timur, Jumat, 23 Oktober 2009

Saya tidak akan menanggapi secara detail dan menyeluruh, hanya catatan dari beberapa kejanggalan yang saya tangkap dari tulisan tersebut.

Sebenarnya uneg-uneg ini telah lama ada semenjak saya membaca artikel tersebut, namun karena beberapa kesibukan akhirnya saya tunda dan baru bisa menuliskannya setelah ada kesempatan.

Dari penilaian saya secara umum, Ismail berusaha untuk memberikan fakta-fakta kepada pembaca bahwa Syi’ah yang sekarang dianggap sebagai aliran sempalan dan berbahaya oleh masyarakat sunni di Indonesia justeru adalah agama ”nenek moyang” bangsa Indonesia sendiri dan jika menolaknya sama saja mengabaikan dan tidak menghargai budaya nenek moyang bangsa Indonesia.

Bagi pembaca dengan modal ilmu agama yang pas-pasan dan akidah yang rapuh boleh jadi akan tergugah dengan tulisan tersebut. Tapi jelas ini adalah manhaj (metodologi) beragama yang salah dan dicela oleh Allah, dalam al-Qur’an Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman yang artinya “Jika dikatakan kepada mereka, Ikutilah apa yang Allah turunkan. Mereka menjawab, Tidak. Akan tetapi kami mengikuti (melakukan) apa yang kami dapati dari pendahulu kami.” (QS. Luqman : 21).

Selain itu, Al-Qur’an juga melarang mengikuti sesuatu tanpa pengetahuan,
“Dan janganlah kalian mengikuti apa yang tidak kalian ketahui.” (QS. Al-Isra : 36).

Rasulullah Shallallahu ’Alaihi wa Sallam pun berpesan kepada kita “Sesungguhnya Allah telah menghilangkan dari kalian ashabiyah Jahiliyah dan kebanggaan dengan nenek moyang. Sesungguhnya yang ada hanyalah seorang mukmin yang bertakwa atau pendurhaka yang tercela. Manusia adalah anak cucu Adam, dan Adam diciptakan dari tanah, tidak ada keutamaan bagi orang Arab atas orang Ajam kecuali dengan takwa” (Hadits Riwayat At-Tirmidzi dan lainnya).

Jika sejarah dirunut lebih ke belakang, jauh sebelum ”Syi’ah” –sebagaimana anggapan Ismail- datang ke negeri ini, agama nenek moyang kita adalah mayoritas Hindu dan beberapa aliran kepercayaan bahkan paganisme. Pertanyaannya adalah apakah ketika ada misionaris Hindu yang berusaha untuk menyebarkan agamanya di tengah kaum muslimin bisa dianggap sebagai sesuatu yang biasa-biasa saja dan tidak membahayakan dengan alasan mereka juga adalah agama nenek moyang kita?

Kita baru berbicara metode, belum subtansi ajarannya.

Imam Syafi’i Rahimahullah adalah Syi’ah?
Hal yang paling menggelikan buat saya dari tulisan tersebut adalah ketika Ismail juga berusaha memberikan pendekatan bahwa madzhab syafi’i yang mayoritas dianut di Indonesia dipengaruhi oleh ajaran syi’ah, seperti barzanji, wirid-wirid, membuat kubah di kuburan dsb. Lagi-lagi Ismail meluputkan pembaca dari masalah subtansi;. Satu lagi pertanyaan, Apakah memang betul itu adalah ajaran Imam Syafi’i?

Barzanji sendiri baru ada sekitar tahun 1180 M atau kurang lebih 3 abad setelah Imam Syafi’i meninggal dunia, bagaimana ia bisa dianggap sebagai bagian dari madzhab Imam Syafi’i?

Imam Syafi’i rahimahullah sebagai salah satu Imam Ahlusunnah dikenal tegar dalam memperjuangkan dan membela sunnah dan membenci segala bentuk dan perilaku bid’ah dan kesyirikan mustahil jika beliau membolehkan wirid-wirid bid’ah apalagi mengagung-agungkan kuburan dengan membangun kubah di atasnya sebagaimana tradisi Syi’ah –seharusnya Ismail membaca buku ”Aqidah 4 Imam Madzhab-. Sebenarnya usaha seperti yang Ismail lakukan ini bukanlah hal yang baru, ini telah dilakukan oleh orang-orang syi’ah sejak dulu, misalnya adanya klaim dari syi’ah bahwa Imam Syafi’i memiliki pemahaman kesyi’ah-syi’ahan. Dalil yang mereka sering angkat adalah syair dari Imam syafi’i yang mengatakan, "Jika benar Syi’ah Rafidhah itu adalah cinta keluarga Muhammad… maka hendaklah jin dan manusia bersaksi bahwa aku adalah orang Syi’ah Rafidhah.”

Sayang, syair yang dibuat Imam Syafi'i itu justru untuk mempermalukan mereka sebagaimana yang menimpa kafir Ahlul Kitab yang menganggap bahwa Allah punya anak, Allah azza wa Jalla menyindir mereka;
”Katakanlah, jika benar Tuhan Yang Maha Pemurah mempunyai anak, maka akulah (Muhammad) orang yang mula-mula memuliakan (anak itu)." (QS Az-Zukhruf: 81).

Dan perhatikanlah perkataan Al-Imam Asy-Syafi’i berkata: “Aku belum pernah tahu ada yang melebihi Syi'ah Rafidhah dalam persaksian palsu.” (Mizanul I’tidal, 2/27-28, karya Al-Imam Adz-Dzahabi)

Syi’ah Akar Penyempalan Madzhab
Di akhir tulisan tersebut secara tidak langsung Ismail mengklaim bahwa semua tradisi-tradisi bid’ah dan kesyirikan khususnya di tanah air ini, mulai dari barzanji, wirid-wirid dan segala bentuk bid’ah bahkan sampai taraf syirik, seperti mengambil berkah di kuburan, ajaran wihdatul wujud atau Manunggal ing Kawula Gusti adalah asli produk syi’ah.

Kalaupun kemudian dikatakan bahwa terjadi sinkritisme antara madzhab Syafi’i di Indonesia dengan tradisi Syi’ah maka saya berterima kasih kepada Ismail atas artikel yang ia buat karena membuat cakrawala berpikir saya semakin terbuka. Ternyata Syi’ah tidak jauh beda dari induk semangnya, Yahudi la’natullah ’alaihi. Yahudi merupakan sang akar pembelotan agama samawi dari ajaran tauhidnya, dan Syi’ah yang merupakan representasi keberhasilan misi Yahudi dalam menghancurkan Islam juga berbuat sama yakni menyempalkan ajaran madzhab dalam hal ini madzhab syafi’i dari ajaran sebenarnya.

Nyatanya saya semakin mengenal Syi’ah tapi kemurnian tauhid saya –mudah-mudahan- dengan tegas mengatakan, "Saya semakin membenci Syi’ah".
Wallahu muwaffiq.

 
Abu Fauzan.

Minggu, 23 September 2012

Seluruh Jiwaku untuk Kekasihku

  
Alhamdulillah, pujian terus mengalir kepada Allah atas sebuah nikmat yang tidak pernah berhenti mengalir. Termasuk didalamnya menjadi bagian hidup dari seseorang yang menyejukkan hati ketika bersanding bersamanya, berjalan bersamanya dan menikmati hidup bersamanya.

Pujian dan sanjungan terus mengalir lembut untuknya, cinta kasih tidak pernah pudar dan seluruh jiwa ini rela kupertaruhkan untuknya.


Kekasihku dihinakan, Kekasihku dilecehkan dan aku tidak rela dengan semua itu.

Begitulah orang-orang diluar Islam, tidak akan pernah berhenti menghujat dan melecehkan agama Islam yang mulia ini. Mereka tidak akan pernah berhenti sampai kita mengikuti agama mereka.

وَلَنْ تَرْضَىٰ عَنْكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَىٰ حَتَّىٰ تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ

“Dan tidak akan rela orang-orang Yahudi dan Nasrani kepada kamu sehingga kamu mengikuti agama mereka.” (QS al-Baqarah: 120)

Belum lepas dibenak kita penghinaan yang dilakukan oleh musuh – musuh Allah kepada Nabiullah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam berupa dibuatnya karikatur beliau, muncul lagi sebuah film yang sangat tidak layak dikatakan sebuah hasil karya seni (tapi lebih layak dikatakan sebagai sebuah karya para pendengki) yang menggambarkan Nabi yang mulia Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang tidak sepantasnya.

Lantas apa yang kita harus lakukan dengan beredarnya Film yang menginakan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tersebut? Apakah kita diam? Kita bungkam?

Tidak…jiwa sebagai taruhannya jika Nabi kita yang mulia ini dihinakan oleh musuh – musuh Allah. Kita pantas marah, kita pantas menghukum pelakunya dengan hukuman tertinggi yakni hukuman mati. Lantas bagaimana kita melakukannya saat ini? Tentu sangat sulit

Kita serahkan semua masalah ini kepada para ulama, artinya membela kehormatan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam harus berdasarkan bimbingan dari para ulama. Kita bukan ummat yang tidak tahu aturan dengan menyikapi setiap masalah tanpa pertimbangan yang matang. Membela kehormatan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bukan dengan cara kekerasan, tapi perlihatkan kalau Islam itu agama yang memiliki adab dan akhlak yang mulia sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Perlihatkanlah bagaimana Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mengajarkan kepada kita untuk menghargai hak-hak orang kafir.

Sekarang saat mari kita lawan mereka, setidaknya kita membenci kebiadaban musuh – musuh Allah tersebut. Kemudian buktikan cinta kita kepada Rasululullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dengan senantiasa mempelajari risalah beliau, mengamalkan dalam kehidupan sehari hari ajaran beliau dan mengajak orang – orang disekitar kita untuk mempelajari risalah yang beliau bawa.

Jangan mengaku mencintai Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sementara kita sibuk dengan urusan dunia sehingga menyempatkan sekali sepekan saja untuk TARBIYAH sangat sulit. Kita sangat sulit melawan panasnya mentari, gumpalan debu, derasnya hujan dan serta dan, dan, dan… Bukankah menuntut ilmu itu berarti menjaga warisan Rasulullah? Bukankan menuntut ilmu itu mengajarkan bagaimana kita membela Rasulullah?

يَعْلَمُونَ ظَاهِرًا مِنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ الْآَخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ

“Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat benar-benar lalai.” (QS. Ar Ruum: 7).

Jangan mengaku mencintai Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam kalau duduk sejenak membaca mukjizat terbesar beliau saja sangat sulit. Padahal Al Quran adalah kitab yang sangat dibenci oleh musuh – musuh Allah yang salah satu tujuan mereka menghina Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam agar kita jauh dari kitab ini.

Sekarang buktikan kalau kita mencintai Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam

Jangan kita mengaku mencintai Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sementara kita hanya terdiam melihat ummat Islam jauh dari agamanya, tidak perduli dengan agamanya dan membiarkan Al Quran sebagai pajangan.

Jangan kita mengaku mencintai Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sementara Bid’ah kita biarkan meraja lela, bukankah Bid’ah itu melecehkan Rasulullah? Lantas mengapa kita duduk membisu membiarkan mereka terjebak?.

Lantas kalau kita mencintai Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam lalu mengapa kita tidak perduli dengan generasi muda, generasi penerus pembela Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Maka “BUKTIKANLAH CINTA KITA”. Wallahu a’lam (ST).

Sumber : zona554

 
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...