Tampilkan postingan dengan label Kisah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah. Tampilkan semua postingan

Kamis, 25 Januari 2018

CATATAN KETUA KBPS 100 TAHUN MUHAMMADIYAH




Ketika itu ana kuliah di Mahad Al Biir Universitas Muhammadiyah Makassar, tahun lalu (2015) mengadakan Muktamar di Makassar sekaligus merayakan se-abad (100 tahun) umurnya. ketika berlangsung acara Muktamar, kuliah pun secara otomatis diliburkan. Ana pun ikut melihat keramaian dan semarak Muktamar Muhammadiyah merupakan ormas terbesar di negeri ini. Ana bersama teman ikut melihat pameran dan diskusi buku yang diadakan panitia Muktamar.

Muhammadiyah yang lahir tahun 1912 di Jogja ini,

Minggu, 27 Maret 2016

KISAH WANITA CANTIK DAN SEORANG KAKEK




Memang kesulitan itu dibarengi oleh Kesabaran,,,kata seorang penyair bahwa, sesungguhnya jika matahari adalah sebuah kemudahan dan air hujan (hujan) adalah sebuah kesulitan, maka sungguh kita membutuhkan keduanya untuk melihat indahnya Sang Pelangi. Maka kehidupan itu harus beriringan antara kesulitan dan kemudahan oleh sebab itu, kita harus selalu bisa bersabar dan bersyukur. 

Sabtu, 27 April 2013

Karena Wanita Begitu Berharga

"Karena wanita begitu berharga...", kalimat tersebut mungkin pernah kita dengar dari sebuah iklan produk kecantikan. Namun sesuatu yang sangat bertolak belakang bagi saya. Cara menghargai wanita dalam iklan tersebut adalah dengan mengeksplorasi kecantikan wanita yang menjadi modelnya. Sebuah kontradiksi yang lazim kita dapatkan dalam  kehidupan liberal dan sekuler. Trus bagaimana Islam dalam menghargai wanita? Coba simak kisah di bawah ini:

Kisah ini diceritakan oleh Ustadz Kholid ZA. Basalamah, Lc. M.Ag dari pengalaman seorang temannya, yaitu Dr. Shaleh. Dr. Shaleh adalah dosen di LIPIA Jakarta dan pengalaman ini terjadi ketika melanjutkan studi untuk meraih gelar Doktornya di Amerika Serikat.

Suatu hari Dr. Shaleh menaiki kereta api bawah tanah bersama dengan istrinya dan secara kebetulan di dalam kereta mereka duduk berhadapan dengan seorang Yahudi. Tak lama mereka duduk si Yahudi berkata dengan sombong kepada mereka. "Apakah kamu Muslim?". Dr. Shaleh menjawab, "Ya, saya Muslim".
"Apa Islam itu? Satu hari shalat lima waktu, puasa satu bulan dalam setahun, mengeluarkan zakat harta, pergi haji!" Kata si Yahudi dengan nada mengejek. Namun Dr. Shaleh tidak menanggapi. Merasa tak mendapat tanggapan perhatian Yahudi beralih ke Isteri Dr. Shaleh yang memakai cadar, si Yahudi bertanya lagi, "Siapa di sebelahmu itu,"
"Ini istri saya? Jawab Dr. Shaleh.
"Apa sih Islam itu? Menzhalimi wanita begitu, disuruh pakai kudung, tutup aurat, apalagi istrimu itu pakai cadar tidak bisa bernafas!"
Orang Yahudi ini sudah kelewatan, pikir Dokter Shaleh, "Apakah kau sudah selesai?
"Ya,"
"Kayaknya kau ini orang Yahudi?"
"Ya, saya orang Yahudi?"
”Setahu saya dalam agama kami diajarkan bahwa orang Yahudi itu suka harta, betul atau tidak?"
"Ya, betul"
"Kalau anda punya sebuah permata yang mahal, dimanakah anda akan letakkan? Di jalanankah?"
"Tidak, saya akan letakkan ditempat yang aman."
"Di mana anda letakkan?"
"Di rumah saya."
"Di mana anda letakkan di dalam rumah? di ruang tamukah?" Dr. Shaleh memberondong si Yahudi.
"Tidak di ruang tamu"
"Kenapa bukan di ruang tamu?".
"Nanti ada orang yang datang yang curi, anda kan bilang itu permata yang mahal."
"Baik, kalau begitu dimana anda letakkan?"
"Di kamar saya."
"Di kamar di mana? Di atas lemarikah? Di bufetkah? Atau di atas ranjang?"
"Tidak, saya akan taruh di sebuah lemari besi yang saya saja yang tahu nomornya isteri saya tidak tahu."
"Kenapa kau takut Isterimu tahu nomornya?"
"Bisa saja Istri saya mengkhianati saya"
"Subhanallah, jawabanmu itu membuat saya semakin yakin dengan kebenaran agama saya, karena agama saya mengajarkan bahwa Yahudi suka harta. Ini baru ilustrasi belum yang sebenarnya, baru saya katakan kalau kau punya permata kau apakan, ternyata kau sudah jaga sampai sejauh itu. Bagaimana kalau permata asli?" Dr. Shaleh melanjutkan "Sebagaimana kau menjaga permata itu, begitulah Islam menjaga wanita, wanita itu terlalu mahal dalam Islam sehingga tidak semua orang bisa melihat, tidak semua orang bisa menjamah dan tidak semua orang bisa memegang dan membuat apa saja yang mereka inginkan?"

Si Yahudi pun bungkam. Alhamdulillah,atas hidayah dari Allah Subhanahu wa Ta'ala, dengan sebab pertemuan mereka itu orang Yahudi tersebut kemudian memeluk agama Islam.

Ya Ukhti, anda adalah lebih dari sekedar permata, sangat mahal, terlalu mahal! Tidak sembarang orang bisa melihat apalagi menyentuh Anda. Karena itu Islam memuliakan anda dan anda harus merasa mulia dengan syariat Islam.

Wallahu a`lam Bishowab.

(Abu Fauzan / alfathonah.blogspot.com)

Jumat, 26 April 2013

Kejeniusan Iyas Bin Muawiyah

Nama beliau adalah Iyas bin Muawiyah bin Qurrah Al Muzanni, lahir pada tahun 46 H di daerah Yamamah Najed. Kemudian beliau pindah ke Bashrah beserta seluruh keluarganya.
Telah nampak bakat dan kecerdasan beliau sejak masih kecil. Orang-orang sering membicarakan kehebatan dan beritanya kendati beliau masih kanak-kanak.
Pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Abdul Aziz, Iyas bin Mu’awiyah al-Muzanni diangkat menjadi Qadhi (hakim) di Bashrah. Beliau terkenal sebagai hakim yang cerdas. Alkisah tersebarlah berita tentang kecerdasan Iyas, sehingga orang-orang berdatangan kepadanya dari berbagai penjuru untuk bertanya tentang ilmu dan agama. Sebagian ingin belajar, sebagian lagi ada yang ingin menguji dan ada pula yang hendak berdebat kusir.
Diantara mereka ada Duhqan (seperti jabatan lurah di kalangan Persia dahulu) yang datang ke majelisnya dan bertanya:
Duhqan: “Wahai Abu Wa’ilah, bagaimana pendapatmu tentang minuman yang memabukkan?”
Iyas: “Haram!”
Duhqan: “Dari sisi mana dikatakan haram, sedangkan ia tak lebih dari buah dan air yang diolah, sedangkan keduanya sama-sama halal.”
Iyas: ”Apakah engkau sudah selesai bicara, wahai Duhqan, ataukah masih ada yang hendak kau utarakan?”
Duhqan: ” Sudah, silahkan bicara!”
Iyas: ”Seandainya kuambil air dan kusiramkan ke mukamu, apakah engkau merasa sakit?”
Duhqan: ”Tidak!”
Iyas: ”Jika kuambil segenggam pasir lalu kulempar kepadamu, apakah terasa sakit?”
Duhqan: ”Tidak!”
Iyas: ”Jika aku mengambil segenggam semen dan kulemparkan kepadamu, apakah terasa sakit?”
Duhqan: ”Tidak!”
Iyas: ”Sekarang, jika kuambil pasir, lalu kucampur dengan segenggam semen, lalu aku tuangkan air diatasnya dan kuaduk, lalu kujemur hingga kering, lalu kupukulkan ke kepalamu, apakah engkau merasa sakit?”
Duhqan: ”Benar, bahkan bisa membunuhku!”
Iyas: ”Begitulah halnya dengan khamr. Disaat kau kumpulkan bagian-bagiannya lalu kau olah menjadi minuman yang memabukkan, maka dia menjadi haram.”
(Sumber: Mereka adalah Tabi’in, oleh: Dr. Abdurrahman Ra’fat Basya, hal. 70-)
===============================
Diriwayatkan ketika beliau masih kecil beliau belajar ilmu hisab (hitung-menghitung) di sebuah sekolah yang diajar oleh seorang Yahudi ahli dzimmah. Pada suatu hari berkumpullah kawan-kawannya dari kalangan Yahudi itu, mereka asyik membicarankan masalah agama mereka tanpa menyadari bahwa Iyas turut mendengarkannya.
Guru yahudi itu berkata kepada teman-teman iyas (yang beragama Yahudi): “tidakkah kalian heran kepadakaum muslimin itu? Mereka berkata bahwa mereka akan makan disurga, namun tidak akan buang air besar!?”
Iyas menoleh kepadanya lalu berkata,
Iyas: “Bolehkah aku ikut campur dalam perkara yang kalian perbincangkan itu wahai guru?”
Guru: “Silakan!”
Iyas: “Apakah semua yang keluar di dunia ini menjadi kotoran?”
Guru: “Tidak!”
Iyas: “Lantas kemana hilangnya makanan yang tidak keluar menjadi kotoran tersebut?”
Guru: “Tersalurkan sebagai makanan bagi tubuh dan anggota badan.”
Iyas: “Lantas dengan alasan apa kalian mengingkari? Jika makanan yang kita makan di dunia saja sebagian hilang diserap oleh tubuh, maka tidak mustahil di surga seluruh makanan diserap oleh tubuh dan menjadi makanan jasmani.”
Maka guru itu terdiam dan kalah argumentasi….
——————-
Di suatu tahun, orang-orang keluar untuk mencari hilal Ramadhan, dipimpin langsung oleh sahabat utama Anas bin Malik Al-Anshari. Ketika itu beliau telah berusia senja, hampir mencapai umur 100 tahun.
Orang-orang memperhatikan seluruh penjuru langit, namun tidak menjumpai hilal. Akan tetapi Anas terus mencari-cari lalu berkata: “Aku telah melihat hilal, itu dia!”sambila menunjuk dengan tangannya ke langit, padahal tidak ada seorangpun melihat hilal selain beliau.
Ketika itu, Iyas memperhatikan Anas, ternyata ada sehelai rambut panjang yang berada di alisnya hingga menjulur ke pelupuk matanya. Dengan santun Iyas meminta izin untuk merapikan rambutAnas yang menjulur itu, lalu bertanya: “Apakah Anda masih melihat hilal itu sekarang, wahai sahabat Rasulullah?”
Anas berkata: “Tidak, aku tidak melihatnya… aku tidak melihatnya….”
==========================
Bukti kecerdasan Iyas terlihat pula dalam kasus berikut:
Ada dua orang yang berselisih lalu mengadukan persoalannya kepada Iyas tentang dua kain beludru yang biasa diletakkan di atas kepala dan dijulurkan hingga ke bahu. Yang satu berwarna hijau, masih baru dan mahal harganya, sedangkan yang satunya lagi berwarna merah dan telah usang.
Si penuduh berkata: “Suatu ketika saya istirahat di sebuah sungai untuk mandi, lalu aku letakkan beludru milikku yang berwarna hijau bersama bajuku di pinggir telaga. Lalu datanglah orang ini dan meletakkan beludrunya yang berwarna merah di samping beludruku lalu terjun ke telaga. Dia selesai sebelum aku selesai… selanjutnya dia memakai bajunya namun mengambil beludru milikku lalu dipakaikan di kepalanya dan langsung beranjak pergi. Ketika aku selesai, ku ikuti dia dan aku meminta kembali beludruku, namun dia mengatakan bahwa beludru tersebut adalah miliknya.
Iyas berkata kepada lelaki yang dituduh: “Bagaimana komentar anda?” Dia menjawab: “Tidak demikian sebenarnya.” Kemudian Iyas berkata kepada penjaga: “Ambilkan aku sebuah sisir.” Lalu diambilkan sisir untuk beliau. Selanjutnya Iyas menyisir kedua rambut kepala orang tersebut, lalu keluarlah dari rambut salah seorang dari mereka bulu halus berwarna merah yang tercecer dari beludru merah, yang satunya lagi keluar bulu halus yang berwarna hijau… lalu beliau memutuskan beludru yang merah bagi yang tercecer di rambut kepalanya bulu halus yang berwarna merah dan beludru hijau bagi yang tercecer bulu halus yang berwarna hijau di rambut kepalanya.
Artikel dari Blog Abu Fahd
(Samsu Alam / http://alamatika.wordpress.com)

Kisah Pemabuk yang Menjadi Imam

Ada dua pemuda penduduk asli Madinah al-Munawarah. Keduanya tamasya ke Turki untuk mengisi liburan mereka, dengan bersenang2 dan menenggak khamr. Ketika telah sampai Istambul, keduanya membeli khamr secara sembunyi2, lalu menaiki taxi menuju daerah Riifah dan tinggal di sebuah hotel. Pada saat chek in, resepsionis bertanya asal negera mereka. Salah satu dari keduanya menjawab, “dari Madinah.”
Terlihat binar bahagia resepsionis mendngar asal kedua pemuda itu. Disiapkan utk keduanya paviliyun dgn harga kamar biasa, demi memuliakan tamu yang berasal dari kota Nabi shallallahu alaihi wasallam.
Alangkah gembiranya keduanya menerima penghormatan itu. Mereka melalui malamnya dgn menenggak khamr. Satu dari keduanya mabuk, sedangkan satunya lagi setengah mabuk hingga mereka tidur.
Tiba2, ada seseorang mengetuk pintu depan. Salah seorang dari keduanya bangun membuka pintu dgn setengah sadar karena kantuk. Ternyata ada pelayan hotel yg kemudian berkata, “Permisi, Imam masjid kami menangguhkan shalat Shubuh begitu mendengar ada tamu dari Madinah yg menginap di sini, maka kami menunggu Anda berdua di masjid bawah.”
Seperti tersambar petir ia mendengarnya. Buru-buru ia membangunkan temannya dan bertanya, “Kamu punya hafalan al-Qur’an nggak?” Ia menjawab, “Ada, tapi tidak mungkin saya berdiri sebagai imam.” Keduanya berpikir keras untuk keluar dari ‘masalah’ tersebut. Belum lagi jalan keluar ditemukan, kembali pelayan hotel mengetuk pintu, “Mohon sedikit dipercepat, kami sudah menunggu Anda di masjid bawah, takut kesiangan.”
Buru2 keduanya mandi dan ‘terpaksa’ turun ke masjid. Ternyata masjid penuh seperti layaknya shalat Jumat. Para jama’ah menyalami keduanya seperti layaknya khalayak menyambut seorg ulama.
Salah satu dari keduanya maju menjadi imam. Iapun berusaha mantapkan hati dan bertakbir. Dan tatkala ia mulai membaca…”alhamdulillahi rabbil ‘aalamiin..” tiba-tiba menangislah jamaah masjid merasa seakan shalat di masjid Nabawi, karena imamnya berasal dari Madinah. Imam pun terbawa suasana hingga turut menangis sebagaimana makmumnya. Tak ada surat lain yang dibaca selain surat al-Ikhlas di sholat itu.
Usai shalat, orang2 mndekati imam shalat seakan ingin mengenal lebih dekat dan menyalaminya. itulah awal hidayah menyapa dua pemuda peminum khamr itu. Kini keduanya menjadi da’i di jalan ALlah, Allahu Akbar…walillahil hamd..
—Ada kalanya Allah mengkondisikan dirimu dengan suatu ‘masalah’ dan ‘kesulitan’, tapi bisa jadi itu adalah cara Allah memperbaiki dirimu—
Semoga Bermanfaat ….
Silahkan saudara-saudariku yang baik, yang mau share atau co-pas, dengan senang hati. Semoga bermanfaat. Semoga pula Allah Ta’ala berikan pahala kepada yang membaca, yang menulis, yang menyebarkan, yang mengajarkan dan yang mengamalkan… Aamiin, Aamiin, Aamiin ya ALlah ya Rabbal’alamin …
Salam Santun Ukhuwah Karena-NYA
Repost from:Abu Umar Abdillah

(Abu Thalhah / http://abuthalhah.wordpress.com/)

Rabu, 26 September 2012

Ukasyah bin Mihshan : Didoakan oleh Rasulullah Masuk Syurga

 
Diriwayatkan dari Abu Hurairah dia berkata, "Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, 'Di antara umatku nanti terdapat 70.000 orang akan masuk Surga tanpa hisab. Wajah mereka bersinar sebagaimana bulan purnama'."

Abu Hurairah berkata, "Kemudian Ukasyah bin Mihshan al-Asadi berdiri sambil mengangkatnimarah lalu berkata, 'Wahai Rasulullah, doakanlah aku kepada Allah agar aku termasuk dalam kelompok itu.' Rasulullah bersabda, 'Ya Allah masukkanlah Ukasyah ke dalam rombongan itu!'

Kemudian seorang sahabat dari golongan Anshar berkata, 'Ya Rasulullah, doakan pula aku agar termasuk ke dalam rombongan itu.' Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, 'Ukasyah telah mendahuluimu'." (HR. Al-Bukhari, 6542; Muslim, 216.)

Disadur dari “99 Kisah Orang Shalih”

Link Sumber : http://abubaid.blogspot.com/2012/08/ukasyah-bin-mihshan-didoakan-oleh.html

 
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...