Tampilkan postingan dengan label Akhlak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Akhlak. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 11 Agustus 2018

MENGENAL KARAKTERISTIK GENERASI RABBANI




Karakteristik Generasi Rabbani

Karakteristik generasi –sebagaimana yang tersebut diatas- adalah :

Sabtu, 03 Desember 2016

PERAN AYAH DALAM KELUARGA



Syamsuar Hamka
(Ketua Departemen Kajian Strategis PP LIDMI)


Pada masa dahulu, seorang lelaki bertanggung jawab hanya sebagai sosok yang pemberi nafkah keluarga. Dimana pekerjaannya, sekedar mencari faktor-faktor pemenuhan kebutuhan hidup keluarga. Urusan dapur dan merawat keluarga diserahkan sepenuhnya kepada para kaum hawa, temasuk mendidik anak.
Akan tetapi, paradigma tersebut sedikit demi sedikit perlu untuk dilihat kembali. Sebab ternyata seorang ayah memiliki peran yang sangat vital dalam pendidikan anak. Sebab, maraknya tindak kejahatan, kekerasan pada remaja, pelecehan seksual, penyalahgunaan narkoba dan berbagi bentuk tindak kriminalitas lainnya menuntut para orang tua bertindak lebih hati-hati dalam mendidik anak. Dengan demikian, mendidik seorang anak juga menjadi kewajiban seorang ayah.


Peran Ayah
Dalam pandangan Islam, peran mendidik anak bukanlah mutlak kewajiban seorang ibu, justru dalam al-Quran lebih banyak menceritakan besarnya peran ayah dalam mendidik anak.  Hal tersebut misalnya bisa kita lihat dalam QS. al-Baqarah ayat 132 dan QS. Yusuf ayat 67 yang menceritakan kisah Luqman, Nabi Ya’qub, dan Nabi Ibrahim yang sedang mendidik anaknya.
Selain itu, seorang Psikolog anak, Elly Risman, berpandangan bahwa, peran ayah dan ibu sama pentingnya dalam mengasuh serta mendidik anak. Pengasuhan ayah dan ibu secara seimbang terhadap anak akan membentuk perilaku positif anak.
Di dalam Al-Qur’an terdapat 17 dialog pengasuhan yang tersebar di sembilan surat. ke 17 dialog tersebut terbagi : 14 dialog antara ayah dan anak, 2 dialog antara ibu dan anak, 1 dialog antara kedua orang tua (tanpa nama) dan anak. Kesimpulannya, ternyata al-Qur’an ingin memberikan pelajaran. Bahwa untuk melahirkan generasi istimewa seperti yang diinginkan oleh Allah dan Rasul-Nya, harus dengan komposisi seperti di atas. Jika kita bandingkan, ternyata dialog antara ayah dengan anaknya, lebih banyak daripada dialog antara ibu dengan anaknya. Jauh lebih banyak. Lebih sering, hingga 14 banding 2.
Oleh sebab itu, dalam urusan keluarga ini hendaknya seorang ayah harus belajar dari Luqman al-Hakim, seorang pemuda yang diabadikan namanya dalam Alqur’an.  Sikap-sikap Luqman haruslah dimiliki oleh setiap ayah di dunia ini, agar bisa menjadi ayah yang baik. Tujuan tentu bukan untuk pamer kehebatan, melainkan untuk kepentingan keluarga terutama masa depan anak.



Mari kita perhatikan, bagaimana bahasa Luqman al-Hakim yang diabadikan di dalam al-Qur’an,
Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar."  (QS. Luqman: 13)
Dalam bahasa yang digunakan Luqman kepada anaknya adalah Yaa Bunayya, dimana dalam kosakata Arab, penggunaan kata tersebut menunjukkan panggilan kasih sayang seorang orang tua kepada anaknya. Berbeda dengan panggilan, Yaa Baniyya atau Yaa Ibniy. Jika kita terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, mungkin lebih sepadan dengan kalimat “Wahai Anakku Sayang”.

Ungkapkan Cinta
Dari petikan panggilan tersebut, kita bisa melihat bagaimana Luqman al-Hakim mengungkapkan rasa cintanya kepada anaknya. Panggilan yang mengucapkan secara langsung kecintaan seorang ayah kepada anaknya. Bagi kita masyarakat yang terpengaruh dalam pola hidup modern mungkin melihat bahwa ungkapan dengan menyebut, “anakku sayang” terlalu lebay atau mungkin dianggap menunjukkan kelemahan seorang ayah, yang maskulin. Padahal ungkapan tersebut bukanlah suatu hal yang tabu. Bahkan ungkapan cinta dari seorang ayah kepada anak perempuannya sangat berpengaruh secara psikologis sehingga anak perempuan tersebut akan merasakan mendapatkan perhatian yang cukup dari sang ayah, dan dampaknya, ia tidak lagi membutuhkan perhatian dari lelaki lain yang bukan mahramnya. Apalagi sangat sering kita jumpai, bagaimana seorang anak gadis yang mudah dipermainkan, dan menjual harga diri dan kehormatannya karena ternyata tidak pernah mendapatkan kasih saying dari orang tuanya.
Sikap dan tata cara Luqman dalam mendidik anak sangat perlu untuk dicontoh oleh para ayah tentang bagaimana cara ia mendidik anak, membesarkan anak, dan tentu saja dalam mengurus keluarga. Apalagi jika melihat kondisi generasi muda sekarang yang sangat begitu minim memperhatikan dalam pendidikan keluarga. Menetapkan peran dan kerja masing-masing posisi setiap anggota keluarga menurut jenis kelaminnya.
Peran vital keluarga seperti di beberapa Negara maju seperti Jepang, menurut penuturan Prof. Dr. KH. Didin Hafidhuddin setelah melakukan kunjungan dakwah, beliau menyimpulkan bahwa secara individu masyarakat Jepang memang sangat berkualitas. Kinerja dan kedisplinannya sangat tinggi. Namun ketika dilihat bagaimana kondisi keluarganya, seakan-akan menurut beliau, keluarga tidak lebih dari sekedar ikatan dan kerjasama peran saja, tanpa ikatan emosional. Menurut beliau, hal itu dilihat dari tingginya angka bunuh diri, serta banyaknya orang-orang tua yang mengalami tekanan jiwa (stres) karena tidak lagi diperhatikan oleh anak-anaknya yang sibuk dalam karir dan pekerjaan mereka.



Berdasarkan sebuah penelitian, peran ayah dalam menunjukkan bahwa kedekatan ayah dengan anaknya memberikan efek psikologis yang kuat terhadap anak. Hal tersebut pasti dapat mengoptimalkan kecerdasan anak. Bahkan temaktub dalam buku The Role Of The Father in Child Development  karya Michael Lamb menyatakan, bahwa ayah ideal adalah ayah yang memiliki cukup waktu luang terhadap anak-anaknya.
Untuk itu perlu diperhatikan Jam kerja selama 8 jam sehari, ditambah dengan tidur 8 jam, jika diaplikasikan dalam rumahtangga, akan membuat waktu kebersamaan dengan keluarga akan semakin sedikit (sisa 8 jam). Belum dihitung waktu kerja di luar kantor, lembur, dan lain-lain. Sehingga perlu siasat dalam Rumah Tangga untuk mengganti waktu yang habis terkuras dalam kerja di luar rumah, dengan waktu-waktu berkualitas di dalam rumah. Yang tujuannya tidak lain adalah agar, interaksi antara orang tua dan anak semakin intensif. Aplikasinya, paling efektif bisa dilakukan setelah shalat subuh dan maghrib setiap harinya. Disiapkan waktu khusus untuk diskusi dan pemberian nasihat kepada anggota keluarga. Agar keluarga bisa memiliki visi dan misi bersama, yaitu mendapatkan keridhaan Allah dengan berumah tangga. Yang pada akhrinya adalah meraih syurga Allah Azza wajalla, sekeluarga.
Imam Ibnul Qayyim berkata: “Betapa banyak orang yang menyengsarakan anaknya, buah hatinya di dunia dan akhirat karena ia tidak memperhatikannya, tidak mendidiknya dan tidak memfasilitasi syahwat (keinginannya), sementara dia mengira telah memuliakannya padahal dia telah merendahkannya. Dia juga mengira telah menyayanginya padahal dia telah mendzaliminya. Maka hilanglah bagiannya pada anak itu di dunia dan akhirat. Jika Anda amati kerusakan pada anak-anak penyebab utamanya adalah ayah.”
Oleh sebab itu, sesibuk apapun seorang ayah, harus memiliki ruang dan waktu untuk anak-anaknya serta harus mampu menjaga komunikasi secara baik dengan anak, agar seorang anak memiliki kecerdasan emosional dan IQ yang lebih baik.

Ayah memiliki peranan yang sangat penting dalam pengasuhan anak, sehingga pengasuhan anak tidak hanya dibebankan sebagai kewajiban seorang ibu. Penghayatan peranan ayah dalam pengasuhan anak dapat mencegah terjadinya perilaku kekerasan terhadap anak. (dimuat di al-buletin balagh, Jumat 12 Agustus 2016)

SUMBER : BLOG SYAMSUAR

Jumat, 25 Juli 2014

TADZKIROH...




هَلْ أَتَاكَ حَدِيثُ الْغَاشِيَةِ

Sudah datangkah kepadamu berita (tentang) hari pembalasan?

وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ خَاشِعَةٌ

Banyak muka pada hari itu tunduk terhina,

عَامِلَةٌ نَاصِبَةٌ

bekerja keras lagi kepayahan,

تَصْلَىٰ نَارًا حَامِيَةً

memasuki api yang sangat panas (neraka),

(QS. Al Ghosyiah 1-4)

Rabu, 22 Januari 2014

Mengumbar Aurat & Kerusakan Masyarakat



SUMBER : blog Andi wawan


Setiap hari, media-media dijejali dengan berita-berita pelecehan seksual, penculikan, perkosaan, bahkan ada diantaranya berujung pembunuhan terhadap wanita. Seperti tak ada habisnya. Ini adalah kerusakan parah dalam masyarakat. Sebagai seorang muslim maka kita tentu akan melihat persoalan ini dari sisi pandangan Islam, apa penyebabnya dan apa solusinya?

Jumat, 26 April 2013

Bagaimana Rasulullah Melayani dan Membantu Istrinya?


1. Kalau ada pakaian yang koyak, Rasulullah menambalnya sendiri tanpa perlu menyuruh isterinya. Beliau juga memerah susu kambing untuk keperluan keluarga maupun untuk dijual.

2. Setiap kali pulang ke rumah,bila dilihat tiada makanan yang sudah siap di masak untuk dimakan,sambil tersenyum baginda menyingsingkan lengan bajunya untuk membantu isterinya di dapur. Sayidatina ‘Aisyah menceritakan‘Ka lau Nabi berada di rumah,beliau selalu membantu urusan rumahtangga.

3. Jika mendengar azan, beliau cepat-cepat berangkat ke masjid,
dan cepat-cepat pula kembali sesudah selesai sembahyang.’

4. Pernah baginda pulang pada waktu pagi.Tentulah baginda teramat lapar waktu itu..Tetapi dilihatnya tiada apa pun yang ada untuk sarapan.Yang mentah pun tidak ada kerana Sayidatina ‘Aisyah belum ke pasar.Maka Nabi bertanya, ‘Belum ada sarapan ya Humairah?’ (Humairah adalah panggilan
mesra untuk Sayidatina ‘Aisyah yang bererti ‘Wahai yang kemerah-merahan ’) Aisyah menjawab dengan agak serba salah,‘Belum ada apa-apa wahai Rasulullah.’Ras ulullah lantas berkata,‘Jika begitu aku puasa saja hari ini.’tanpa sedikit tergambar rasa kesal di raut wajah baginda.

5. Sebaliknya baginda sangat marah tatkala melihat seorang suami sedang memukul isterinya.Rasul ullah menegur,‘Mengap a engkau memukul isterimu?’ Lantas dijawab dengan agak gementar, ‘Isteriku sangat keras kepala! Sudah diberi nasihat dia tetap begitu juga,jadi aku pukul lah dia.’‘Aku tidak menanyakan alasanmu,’ sahut Rasulullah Shallahu 'alaihi wassalam,.‘Aku menanyakan mengapa engkau memukul teman tidurmu dan ibu kepada anak-anakmu?’

6. Pernah baginda bersabda,’sebai k-baik lelaki adalah yang paling baik, kasih dan lemah lembut terhadap isterinya.’ Prihatin,sabar dan rendah hati baginda dalam menjadi ketua keluarga langsung tidak sedikitpun menurunkan kedudukannya sebagai pemimpin umat..

7. Kecintaannya yang tinggi terhadap ALLAH Subhanahu Wa Ta'ala dan rasa kehambaan yang sudah melekat dalam diri Rasulullah Shallahu 'alaihi wassalam menolak sama sekali rasa kesombongan.

8. Seolah-olah anugerah kemuliaan dari ALLAH langsung tidak dijadikan sebab untuknya merasa lebih dari yang lain,ketika di depan ramai maupun dalam kesendiriannya.

9. Pintu Syurga telah terbuka seluas-luasnya untuk baginda, baginda masih lagi berdiri di waktu-waktu sepi malam hari,terus-mene rus beribadah hinggakan pernah baginda terjatuh lantaran kakinya sudah bengkak-bengkak .

10. Fisiknya sudah tidak mampu menanggung kemauan jiwanya yang tinggi.Bila ditanya oleh Sayidatina ‘Aisyah,‘Ya Rasulullah,
bukankah engaku telah dijamin Syurga? Mengapa engkau masih bersusah payah begini?’ Jawab baginda dengan lunak,‘Ya ‘Aisyah,apakah aku tak boleh menjadi hamba-Nya yang bersyukur...


(Abu Fadhiilah / http://abufadhiilah.blogspot.com/)

Sabtu, 15 Desember 2012

Bicara yang Baik atau Diam!


Lisan; Pedang Bermata Dua
“Mulutmu Harimaumu” atau “Lidah itu tajam laksana pedang” ideom-ideom yang mungkin tidak asing lagi bagi kita, menyiratkan akan pesan bahwa mulut dan lidah yang dzahirnya adalah organ yang tak bertulang tapi memiliki bahaya seganas harimau atau bisa melukai sebagaimana pedang tajam jika ia tidak dipergunakan dengan hati-hati dan bijak.

Bila lidah tak terkendali, dibiarkan berucap sekehendaknya, alamat kesengsaraan akan segera menjelang. Sebaliknya bila ia terkelola dengan baik , hemat dalam berkata, dan memilih perkataan yang baik-baik, maka sebuah alamat akan datangnya banyak kebaikan.

Lisan mempunyai kedudukan yang tinggi di dalam Islam. Melalui lisan, orang yang awalnya kafir bisa menjadi muslim yaitu dengan ucapan dua kalimat syahadahnya. Melalui lisan pula, orang yang awalnya adalah seorang muslim bisa menjadi kafir.

Dari ia Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu bahwasanya ia mendengar Nabi shallallahu 'Alaihi wa Sallam berkata,
“Sesungguhnya seorang hamba mengucapkan satu kata yang dia tidak tahu apakah itu baik atau buruk,ternyata menggelincirkannya ke dalam neraka lebih jauh dari antara timur dan barat”.
Imam An-Nawawi rahimahullah menjelaskan, “Ketahuilah, bahwasanya seyogyanya bagi setiap mukallaf hendaklah ia menjaga lisannya dari seluruh ucapan kecuali ucapan yang ada maslahat padanya. Apabila berbicara atau diam sama maslahatnya, maka yang sesuai sunnah adalah memilih diam. Karena terkadang ucapan yang mubah dapat menyeret kepada yang haram atau makruh, bahkan galibnya inilah yang terjadi, dan keselamatan tidak ada yang bisa menyamai harganya”.

Lisan Pembawa Kekafiran
Banyak orang yang memiliki persepsi bahwa ucapan-ucapan yang mengandung kekafiran, seperti mencela Allah Subhanahu wa Ta'ala atau Rasululullah shallallahu 'alaihi wa sallam, atau mencela dien dan semisalnya, tidaklah menjadi sebab pelakunya kafir keluar dari Islam, selama di dalam hatinya masih ada keimanan. Anggapan ini tentu saja keliru karena bertentangan dengan nash dan apa yang telah ditetapkan ahlul ilmi.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
“Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: 'Sesungguhnya Allah itu ialah Al-Masih putera Maryah'.” (QS. Al-Ma`idah: 17)
Ibnu Taimiyyah rahimahullahu berkata: “Barangsiapa mengucapkan perkataan kufur dengan lisannya, dalam keadaan sengaja dan tahu bahwa itu adalah ucapan kufur, maka ia telah kafir lahir dan batin. Tidak boleh bagi kita terlalu berlebihan sehingga harus dikatakan: 'Mungkin saja dalam hatinya ia mukmin'. Siapa yang mengucapkan (kekufuran) itu, maka sungguh dia telah keluar dari Islam.”

Beliaupun menjelaskan hal yang sama ketika membantah pendapat yang menyatakan bahwa ucapan lisan semata tidaklah menyebabkan kekafiran. Beliau berkata: “Sesungguhnya kita mengetahui bahwa orang yang mencela Allah Subhanahu wa Ta'ala dan Rasul-Nya dalam keadaan sukarela bukan karena terpaksa, bahkan orang yang berbicara dengan kalimat-kalimat kufur dengan sukarela dan tidak dipaksa, serta orang yang mengejek Allah Subhanahu wa Ta'ala, Rasul-Nya dan ayat-ayat-Nya, maka dia telah kafir lahir batin.” (Majmu'ul Fatawa, 7/368)

Canda Berujung Petaka

Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa pada suatu perjalanan perang (yaitu perang Tabuk), ada orang di dalam rombongan tersebut yang berkata, "Kami tidak pernah melihat seperti para ahli baca Al-Qur'an ini (yaitu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan para sahabat beliau), kecuali sebagai orang yang paling buncit perutnya, yang paling dusta ucapannya dan yang paling pengecut tatkala bertemu dengan musuh." (Mendengar hal ini), Auf bin Malik radhiyallahu 'anhu berkata kepada orang tersebut, "Engkau dusta, kamu ini munafik. Akan aku laporkan ucapanmu ini kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.”

Maka Auf bin Malik radhiyallahu 'anhu pun pergi menghadap Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam  Namun sebelum Auf sampai, wahyu telah turun kepada beliau shallallahu 'alaihi wa sallam (tentang peristiwa itu). Kemudian orang yang bersendau gurau dengan menjadikan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sebagai bahan bercanda mendatangi Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam yang saat itu sudah berada di atas untanya. Orang tadi berkata, "Wahai Rasulullah, kami tadi hanyalah bersendau gurau, kami lakukan itu hanyalah untuk menghilangkan kepenatan dalam perjalanan sebagaimana hal ini dilakukan oleh orang-orang yang berada dalam perjalanan!" Ibnu Umar (salah seorang sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam yang berada di dalam rombongan) bercerita, "Sepertinya aku melihat ia berpegangan pada tali pelana unta Rasulullah sedangkan kakinya tersandung-sandung batu sembari mengatakan, ‘Kami tadi hanyalah bersendau gurau dan bermain-main saja.’ Kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berkata kepadanya (dengan membacakan firman Allah), "Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok? Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu telah kafir sesudah beriman." (At-Taubah: 65-66). Beliau mengucapkan itu tanpa berpaling kepada orang tersebut dan beliau juga tidak bersabda lebih dari itu." (HR.Ibnu Abi Hatim dengan sanad yang hasan)

Perkataan yang dianggap dan dengan niat bercanda saja bisa menyeret pelakunya pada kekafiran apalagi jika perkataan tersebut dilisankan dengan serius dan niat awalnya memang untuk mengolok-olok ataupun meremehkan agama Allah.

Kapan Bicara, Kapan Diam

Di saat kita hendak berkata-kata, tentunya kita harus berpikir untuk memilihkan hal-hal yang baik untuk lidah kita. Bila sulit mendapat kata yang indah dan tepat maka lebih baik diam.

Inilah realisasi dari sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam:
"Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaknya ia berkata yang baik atau diam” (HR Muslim)
Imam an-Nawawi di dalam Syarh Shahîh Muslim, menjelaskan, “Maknanya, bahwa jika ia ingin berbicara, jika apa yang ingin ia bicarakan adalah baik, mendapatkan pahala, baik yang wajib atau mandub, maka hendaknya ia berbicara. Sebaliknya, jika tidak tampak bahwa itu baik dan mendapatkan pahala,  hendaknya ia diam tidak berbicara, baik tampak bahwa itu adalah haram, makruh atau mubah yang memuat (kemungkinan) kedua sisi (baik dan buruk). Atas dasar ini, meninggalkan perkataan mubah itu adalah diperintahkan dan sunnah untuk menahan diri darinya karena khawatir terjerumus pada yang haram atau makruh. Inilah yang biasanya terjadi pada banyak orang.”

Jadi, hadits ini mengandung dua poin. Pertama: dorongan (perintah) untuk mengatakan yang baik, yaitu sesuatu yang diridhai Allah. Menurut al-Munawi, hadits ini memberi faedah bahwa perkataan yang baik itu lebih dikedepankan daripada diam karena perintah itu disebutkan lebih dulu, dan bahwa diam itu diperintahkan pada saat tidak berkata yang baik.

Kedua: perintah untuk diam, yaitu perintah untuk tidak mengatakan yang buruk, yang dibenci atau dimurkai oleh Allah.

Dengan demikian, setiap orang hendaknya berpikir dulu sebelum berbicara. Jika yang akan dia katakan diridhai Allah, menjelaskan kebenaran, mendorong orang untuk taat dan memperjuangkan syariah, amar makruf nahi mungkar, membela Islam dan kaum Muslim dan sebagainya maka yang seperti ini justru harus dikatakan dan tidak boleh diam.

Sebaliknya, jika yang akan dikatakan itu dibenci Allah; termasuk seruan kemaksiatan dan ketidaktaatan; memerintahkan yang mungkar dan melarang yang ma’ruf; membela dan mendorong kekufuran dan kesesatan; membuat orang meragukan Islam, al-Quran dan as-Sunnah; tidak membela Islam dan kaum Muslim bahkan sebaliknya meremehkan, melecehkan dan menyerang Islam dan kaum Muslim; dan sebagainya; maka yang diperintahkan adalah diam.

Akhirnya, kita memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala untuk senantiasa membimbing amalan-amalan kita termasuk dalam menjaga lisan-lisan dari perkataan-perkataan yang tidak bermanfaat terlebih apa yang Dia murkai yang pada akhirnya bisa menyeret kita kepada neraka-Nya. Sebaliknya, mudah-mudahan lisan kita selalu dalam kebaikan, bermanfaat buat sesama dan agama kita dan menjadi salah satu sebab kita dalam menggapai surga-Nya. Amin.

Wallahu Muwaffiq

Kiriman alfathonah.blogspot.com

 
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...